hubungan ilmu ekologi dengan ilmu lainnya
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan segala rahmatnya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini
tanpa suatu halangan apapun. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
” Ilmu Alamiah Dasar” yang diberikan oleh dosen pengampu. Ucapan terima kasih
saya sampaikan untuk keluarga saya dan rekan-rekan sekalian yang telah
memberikan dorongan kepada saya, sehingga makalah Hubungan Ekologi Dengan Ilmu
Lainnya ini dapat saya selesaikan. Meskipun demikian saya menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saya mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun guna menyempurnakan makalah ini.
Demikian sepatah kata dari saya, semoga makalah ini bermanfaat
untuk penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Medan , 24 November 2014
Penulis
Abdul Rahim
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi
antara organisme dengan lingkungan dan lainnya, ekologi juga merupakan ilmu
yang mempertanyakan dan menyelidik. Ekologi merupakan cabang ilmu yang masih
relatif baru dan ekologi memperhatikan secara luas tingkat – tingkat sistem dan
tingkat – tingkat organism yang ada di dunia.
Ekologi merupakan cabang biologi, dan merupakan bagian dasar dari
biologi. Ruang lingkup ekologi meliputi populasi, komunitas, ekosistein, hingga
biosfer. Studi-studi ekologi dikelompokkan ke dalam autekologi dan sinekologi.
Ekologi berkembang seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
Semua ilmu pengetahuan pasti berhubungan dengan ekologi salah satunya adalah
ilmu psikologi, hal itu dibuktikan dengan adanya teori ekologi Bronfenbenner
dan juga psikologi lingkungan
Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan Ekologi?
Apa kaitan Ekologi dan
Ilmu lainnya?
Bagaimana hubungan antara Ekologi dan Psikologi?
Tujuan
1. Untuk mengetahui
pengertian dari Ekologi.
2. Mengetahui keterkaitan Ekologi dan beberapa ilmu lain.
3. Mengetahui
hubungan Ekologi dan Psikologi yang dibuktikan dengan adanya teori ekologi
Bronfenbenner dan Psikologi Lingkungan
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Ekologi Ekologi
adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungan dan
lainnya. Ekologi berasal dari kata Yunani oikos yaitu habitat dan logos yang
berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi
antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya.
Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834 – 1914).
Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan
lingkungannya.
Ekologi merupakan cabang
ilmu yang masih relatif baru, Ekologi muncul pada tahun 70-an. Akan tetapi,
ekologi mempunyai pengaruh yang besar terhadap cabang biologi. Ekologi
mempelajari bagaimana makhluk hidup dapat mempertahankan kehidupannya dengan
mengadakan hubungan antar makhluk hidup dan benda tak hidup di dalam tempat
hidupnya atau lingkungannya. Ekologi, biologi dan ilmu kehidupan lainnya saling
melengkapi.
Ekologi memperhatikan secara
luas tingkat – tingkat sistem dan tingkat – tingkat organisme. Didalam ekologi
populasi dinyatakan sebagai golongan-golongan, individu – individu dari setiap
spesies organisme. Sedangkan komunitas adalah semua populasi – populasi yang
menduduki daerah tertentu. Komunitas dan lingkungan yang tidak hidup berfungsi
bersama sebagi sistem ekologi atau ekosistem.
Kemajuan teknologi sekarang memungkinkan penelitiaan ekologi secara
kuantitatif dari ekosistem yang besar dan kompleks. Dengan model matematika
serta pengolahan secara komputer maka akan dapat diketahui apa yang akan
terjadi bila suatu parameter dalam suatu model diubah dan menimbulkan bidang
baru yang dikenal sebagai ekologi stetistik dan ekologi system (model – model
ekosistem). Kalau direnungkan kemajuan teknologi dapat dikatakan merupakan
pedang bermata dua yang dapat digunakan untuk menghancurkannya. Oleh karena itu
agar teknologi yang ditemukan manusia itu, bermanfaat untuk kesejahteraan
manusia, maka manusia sebagai insan pemakainya harus mempertimbangkan
prinsip – prinsip ekologi.
Terdapat dua asas dalam Ekologi :
1.1 Dimanapun suatu organisme tidak akan
dapat hidup mandiri, untuk kelangsunga
hidupnya organisme
memerlukan organisme lain atau lingkungannya.
1.2Lingkungan
di perlukan organisme untuk makan, perlindungan dll. Ahli ekologi mempelajari
organisasi kehidupan dalam tiga tingkatan: Populasi adalah sekelompok makhluk
hidup dengan spesies yang sama yang hidup di suatu wilayah yang sama (waktu
yang sama pula). Komunitas adalah kumpulan populasi yang hidup secara bersama
dalam suatu lingkungan. Ekosistem adalah hubungan timbal balik antara makhluk
hidup dengan lingkungan 1.2 .Arah Ekologi: Pada dasarnya ekologi
adalah ilmu dasar yang tidak mempraktekkan sesuatu. Ekologi adalah ilmu tempat
mempertanyakan dan menyelidik. Seseorang yang belajar ekologi sebenarnya
bertanya tentang berbagai hal sebagai berikut: 1)
Bagaimana alam bekerja. 2) Bagaimana suatu spesies
beradaptasi dalam habitatnya. 3) Apa yang mereka
perlakukan dari habitatnya untuk dapat melangsungkan kehidupan.
4) Bagaimana mereka mencukupi kebutuhannya akan unsur
hara dan energy. 5) Bagaimana mereke aberinteraksi
dengan spesies lainnya. 6) Bagaimana individu-individu
dalam spesies lainnya. 7) Bagaimana keindahan ekosistem
tercipta. Para ahli ekologi mempelajari hal berikut :
1. Perpindahan energi dan materi dari makhluk
hidup yang satu ke makhluk hidup yang lain ke dalam lingkungannya dan
faktor-faktor yang menyebabkannya. 2. Perubahan
populasi atau spesies pada waktu yang berbeda dalam faktor-faktor yang
menyebabkannya. 3. Terjadi hubungan antarspesies
(interaksi antarspesies) makhluk hidup dan hubungan antara makhluk hidup dengan
lingkungannya. Kini para ekolog(orang yang mempelajari ekologi)berfokus kepada
Ekowilayah bumi dan riset perubahan iklim. 1.3
Pembagian Ekologi : Ekologi dapat dibagi menjadi autekologi dan sinekologi
Auteknologi adalah ekologi yang mempelajari suatu jenis (spesies) organisme yang
berinteraksi dengan lingkungannya. Sinekologi adalah ekologi yang mengkaji
berbagai kelompok organisme sebagai suatu kesatuan yang saling berinteraksi
dalam suatu daerah tertentu. Bila studi dilakukan untuk mengetahui hubungan
jenis serangga dengan lingkungannya, kajian ini bersifat autekologi. Apabila
studi dilakukan untuk mengetahui karakteristik lingkungan dimana serangga itu
hidup maka pendekatannya bersifat sinekologi. 1.4
Ruang Lingkup Ekologi a) Istilah ekologi berasal dari kata
dalam bahasa Yunani yaitu oikos dan logos. Istilah ini mula-mula diperkenalkan
oleh Ernst Haeckel pada tahun 1869. Tetapi jauh sebelurmya, studi dalam
bidang-bidang yang sekarang termasuk dalam ruang lingkup ekologi telah
dilakukan oleh para pakar. b) Ekologi merupakan cabang
biologi, dan merupakan bagian dasar dari biologi. Ruang lingkup ekologi
meliputi populasi, komunitas, ekosistein, hingga biosfer. Studi-studi ekologi
dikelompokkan ke dalam autekologi dan sinekologi. c)
Ekologi berkembang seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Perkembangan
ekologi tak lepas dari perkembangan ilmu yang lain. Misalnya, berkembangnya
ilmu komputer sangat membantu perkembangan ekologi. Penggunaan model-model
matematika dalam ekologi misalnya, tidak lepas dari perkembangan matematika dan
ilmu komputer. 1.6 Hubungan Ekologi dengan ilmu lainnya : Ilmu fisika :
membahas perubahan suhu, daya serap tanah karena pengaruh sinar matahari,
proses dan pengaruh hujan terhadap kehidupan. Ilmu Bumi dan Antariksa juga
berperan karena ekologi berkaitan dengan berbagai proses yang dipengaruhi
peristiwa-peristiwa siang dan malam, musim kemarau dan musim hujan, gravitasi,
endapan aluvial, vulkanik, erosi dan lain-lain. Ilmu Kimia berperan karena
dalam ekologi proses kimia seperti dalam unsur-unsur C, N, CO2 yang
merupakan bagian penting dalam beberapa reaksi kimia. Ilmu ekonomi. Ekonomi
juga berasal dari kata “oikos” dan “nomics” yang berarti manajemen. Jadi
ekonomi adalah manajemen tempat hidup atau manajemen lingkungan. Sebagai sumber
energy bagi ekologi adalah sinar matahari, Sedangkan sumber “energy” bagi
ekonomi adalah uang. Sebenarnya ekonomi dengan ekologi mempunyai hubungan yang
sesuai akan tetapi banyak orang menganggap bahwa ekonomi dengan ekologi
merupakan dua hal yang bertentangan. Oleh karena itu, ahli ekonomi perlu
mempelajari ekologi, sehingga didalam mendapatkan keuntungan maksimal juga
memperoleh kualitas lingkunagn yang maksimum. Ilmu Sosial Budaya. Ilmu sosial
budaya sangat penting bila komponen manusia dimasukkan dalam cakupan ekosistem,
atau bila kita mempelajari peran ekosistem dalam kehidupan manusia. Lingkungan
sosial budaya dan ekonomi sangatlah penting bagi kesinambungan pembangunan
berkelanjutan. Sebab pembangunan dilakukan oleh dan untuk manusia yang hidup di
dalam kondisi sosial-budaya dan ekonomi tertentu. Dalam pembangunan faktor
ekonomi mendapat perhatian yang seperlunya, karena semua orang sadar bahwa
pembangunan tak akan dapat berkelanjutan, apabila ekonomi tidak mendukungnya.
Akan tetapi faktor sosial-budaya sering diabaikan. Namun sejarah menunjukkan,
faktor sosial-budaya telah menyebabkan tak berkelanjutannya pembangunan
dibanyak negara. Misalnya, pembangunan oleh Shah Iran tidak berkelanjutan,
karena faktor sosial budaya tidak dapat mendukungnya. 6.
Antropologi. Terkadang ekologi dibandingkan dengan antropologi, sebab
keduanya menggunakan banyak metode buat mempelajari satu hal yang yang kita tak
bisa tinggal tanpa itu. Antropologi ialah tentang bagaimana tubuh dan pikiran
dipengaruhi lingkungan kita, ekologi ialah tentang bagaimana lingkungan kita
dipengaruhi tubuh dan pikiran kita. Jadi semua ilmu yang kita pelajari sangat
berkaitan erat dengan ilmu ekologi. Ilmu ekologi dan ilmu lainnya sangat
mempunyai hubungan yang sangat erat dan tidak dapat dipisah satu dengan lainnya
karena mereka dapat melengkapi satu dengan lainnya supaya terciptanya
keselarasan dan keseimbangan diantara ilmu – ilmu tesebut.
2. EKOLOGI DAN PSIKOLOGI
2.1 Pengertian
Psikologi Lingkungan Berikut beberapa definisi menurut para ahli : Heimstra dan
Mc Farling (Prawitasari,1989) menyatakan bahwa psikologi lingkungan adalah
disiplin ilmu yang memperhatikan dan mempelajari hubungan antara perilaku
manusia dengan lingkungan fisik. Proshansky, Ittleson, dan Rivlin (Prawitasari,
1989) menyatakan bahwa psikologi lingkungan adalah apa yang dilakukan oleh
psikolog terhadap lingkungan. Gifford (1987) mendefinisikan psikologi
lingkungan adalah studi dari transaksi diantara individu dengan lingkungan
fisiknya. Vietch dan Arkkelin (1995) mendefinisikan psikologi lingkungan
sebagai ilmu perilaku multidisiplin yang memiliki orientasi dasar dan terapan
yang memfokuskan interelasi antara perilaku dan pengalaman manusia sebagai
individu dengan lingkungan fisik dan sosial. Jadi dapat ditarik kesimpulan
bahwa psikologi lingkungan adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia
bedasarkan pengaruh lingkungannya, baik lingkungan sosial, dan lingkungan alam.
2.1.1 Ruang Lingkup Psikologi Lingkungan Psikologi lingkungan
banyak mempunyai ruang lingkup diantaranya design, organisasi, pemaknaan
lingkuangan seperti alamiah, buatan, sosial, dan hasil modifikasi, selain itu
psikologi lingkungan juga mempelajari mengenai kebudayaan dan kearifan lokal
suatu tempat. Namun menurut Hardjowirogo, seorang antropolog, menyatakan tidak
ada jaminan akan keefektifan mawas diri. Contoh zaman sekarang banyak orang
tinggal dilingkungan yang baik namun perilakunya tidak mencerminkan hal
tesebut. Sehingga sekarang ini fungsi dari mawas diri hanya jadi pengucapan belaka.
2.2 Teori Ekologi
Brofenbenner Teori sistem ekologi Bronfenbenner berfokus utama pada konteks
sosial tempat anak tinggal dan orang-orang yang mempengaruhi perkembangan anak.
Teori ini terdiri dari lima sistem lingkungan yang merentang dari interaksi
interpersonal sampai ke pengaruh kultur yang lebih luas. Kelima sistem
tersebut adalah mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem dan
kronosistem. (Helmi, 1999) Ø Mikrosistem adalah setting tempat
individu banyak menghabiskan waktu. Beberapa konteks dalam sistem ini antara
lain adalah keluarga, teman sebaya, sekolah, dan tetangga. Dalam mikrosistem
inilah individu berinteraksi dengan agen sosial secara langsung (keluarga,
teman sebaya, guru). Menurut Bronfenbenner, dalam setting ini individu bukanlah
penerima pengalaman yang pasif, tetapi sebagai individu yang berinteraksi
secara timbal balik dengan orang lain. Bronfrenbrenner menunjukkan bahwa
kebanyakan penelitian tentang dampak-dampak sosiokultural berfokus pada
mikrosistem. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008) Ø Mesosistem adalah
hubungan antara beberapa mikrosistem atau hubungan antara beberapa konteks.
Contohnya adalah hubungan antara pengalaman keluarga dengan pengalaman sekolah,
pengalaman sekolah dengan pengalaman keagamaan, dan pengalaman keluarga dengan
pengalaman teman sebaya. (Santrock, Life-Span Development, 2002) Dalam
studi terhadap seribu anak kelas delapan (3 SMP), diteliti dampak gabungan dari
pengalaman di keluarga dan di sekolah terhadap sikap dan prestasi siswa saat siswa
melewati masa transisi dari tahun terakhir SMP ke awal SMA (Epstein,1983 dalam
Santrock, 2008). Siswa yang diberi kesempatan lebih banyak untuk berkomunikasi
dan mengambil keputusan (baik di rumah maupun di kelas) menunjukkan inisiatif
dan nilai akademik yang baik. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008) Ø
Eksosistem, dilibatkan ketika pengalaman-pengalaman dalam setting sosial lain,
ketika individu tidak memiliki peran yang aktif mempengaruhi hal yang individu
alami dalam konteks yang dekat. Atau sederhananya menurut eksosistem melibatkan
pengalaman individu yang tak memiliki peran aktif di dalamnya. Misalnya,
pengalaman kerja dapat mempengaruhi hubungan seorang perempuan dengan suami dan
anaknya. Seorang ibu dapat menerima promosi yang menuntutnya melakukan lebih
banyak pekerjaan, yang dapat meningkatkan konflik perkawinan dan perubahan pola
interaksi orang tua-anak. (Santrock, Life-Span Development, 2002)
Contoh lain eksosistem adalah pemerintah kota yang bertanggung jawab bagi
kualitas taman, pusat rekreasi dan fasilitas perpustakaan bagi anak-anak dan
remaja. Keputusan mereka bisa membantu bisa menghambat atau membantu
perkembangan individu secara tidak langsung. (Santrock, Life-Span
Development, 2002) Ø Makrosistem adalah kultur yang lebih luas.
Kultur merupakan istilah yang luas yang mencakup peran etnis dan faktor
sosioekonomi dalam perkembangan anak. Kultur adalah konteks terluas tempat
siswa dan guru tinggal, termasuk nilai dan adat istiadat masyarakat. (Santrock,
Psikologi Pendidikan, 2008) Misalnya, beberapa kultur (seperti Mesir dan Iran
sebagai negara Islam), menekankan pada peran gender yang tradisioanal. Kultur
lain (seperti di Amerika Serikat) menerima peran gender yang lebih bervariasi.
Di kebanyakan negara Islam sistem pendidikannya mengutamakan dominasi pria. Di
Amerika, sekolah-sekolah semakin mendukung nilai kesetaraan antara pria dan
wanita. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008) Satu dari aspek atatus
sosioekonomi murid adalah faktor perkembangan dalam kemiskinan. Kemiskinan dapat
memengaruhi perkembangan anak dan merusak kemampuan mereka untuk belajar,
meskipun beberapa anak di lingkungan miskin sangat rajin. (Santrock, Psikologi
Pendidikan, 2008) Ø Kronosistem, meliputi pemolaan peristiwa-peristiwa
sepanjang rangkaian kehidupan dan keadaan sosiohistoris dari perkembangan
individu. Misalnya, dalam mempelajari dampak perceraian terhadap anak-anak,
para peneliti menemukan bahwa dampak negatif sering memuncak pada tahun pertama
setelah percaraian dan bahwa dampaknya lebih negatif bagi anak laki-laki
daripada anak perempuan (Hetherington, 1989 dalam Santrock, 2008). Dua tahun
setelah perceraian, interaksi dalam keluarga tidak begitu kacau dan lebih
stabil. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008) Bronfenbrenner semakin banyak
memberi perhatian kepada kronosistem sebagai sistem lingkungan yang penting.
Dia memperhatikan dua problem penting, yaitu banyaknya anak Amerika yang hidup
dalam kemiskinan (terutama dalam keluarga single-parent) dan penurunan
nilai-nilai. (Santrock, Life-Span Development, 2002) Bronfenbenner juga
berpendapat bahwa anak-anak sekarang adalah generasi pertama yang mendapatkan
perhatian setiap hari, generasi pertama yang tumbuh dalam lingkungan elektronik
yang dipenuhi oleh komputer dan bentuk media baru, generasi pertama yang tumbuh
dalam revolusi seksual, dan generasi pertama yang tumbuh di dalam kota yang
semraut dan tak terpusat, yang tidak lagi jelas batas antara kota, pedesaan
atau subkota. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008) 2.2.2 Evaluasi Teori
Bronfenbenner Teori Bronfenbenner telah mendapat banyak popularitas. Teori ini
memberikan kerangka teoritis untuk mengkaji konteks sosial secara sistematis,
baik di tingkat mikro maupun makro. Teori ini juga menjembatani
kesenjangan antara teori behavioral yang berfokus pada setting kecil dan teori
antropologi yang menganalisis setting yang lebih luas. Teorinya memicu
perhatian orang pada arti penting kehidupan anak dari berbagai setting.
Misalkan guru seharusnya tidak hanya mempertimbangkan hal yang terjadi di dalam
kelas, tetapi juga mempertimbangkan apa yang terjadi dalam keluarga,
lingkungan, dan teman sebaya siswanya. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008).
Para pengkritik teori Bronfenbenner mengatakan bahwa teorinya tidak banyak
memberi perhatian kepada faktor biologis dan kognitif dalam perkembangan anak.
Mereka juga menunjukkan bahwa teori tersebut tidak membahas perubahan
perkembangan bertahap yang menjadi fokus pada teori-teori seperti teori Piaget
dan Erikson. (Santrock, Psikologi Pendidikan, 2008) DAFTAR PUSTAKA
·
http://dinarputri24.wordpress.com/2013/05/12/hubungan-ekologi-dengan-ilmu-lainnya/
·
http://ratudwinandamasdar.wordpress.com/2013/05/13/hubungan-antara-ekologi-dan-ilmu-lainnya/
·
http://rozanafajrina.wordpress.com/2013/04/29/tugas-iad-2-ekologi-dan-psikologi/
·
http://titahvegatanaya.blogspot.com/2013/05/ekologi-dan-kaitannya-dengan-ilmu-lain.html
·
http://utak-atik-psikologi.blogspot.com/2012/03/teori-sistem-ekologi-urie.html
Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Tidak ada komentar:
Posting Komentar